
| Kategori: | Musik |
| Jenis | Musik Indie |
| Artis: | Girls |
Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton talkshow mengenai musik di salah satu stasiun televisi swasta. Denny Sakrie salah satu tamu di acara tersebut (jika tidak salah). Beliau mengatakan bahwa musik berhenti di tahun 90-an, sisanya musik adalah pengulangan. Sebelum Denny Sakrie mengatakan itu, saya pun sudah berpendapat seperti itu. Tetapi saya lebih spesifik dengan mengatakan bahwa musik berhenti di Nirvana (semoga anda tidak setuju). Apakah pengulangan itu salah? Apakah pengulangan itu menjadikan anda bodoh? I don’t think so. Setiap karya seni pasti ada nilainya meski plagiat sekalipun. Tidak ada yang original selain Terminologi Classic. Setiap penyanyi, setiap grup pasti mempunyai influencenya masing-masing, dimana mereka secara tidak sadar maupun sadar meniru, mengikuti, bahkan mengambil ornamen-ornamen dari apa yang telah mereka lihat, dengar, dan rasakan sebelumnya. Dari apa yang mereka dengar itu, sejauh apakah mereka mengikutinya? Apakah secara keseluruhan? atau ingin membongkarnya dan menggubahnya? Albert King adalah dewa, Jimi Hendrix merakitnya, lalu Kurt Cobain membongkarnya, semuanya saling berkaitan. T-bone Walker pernah berkata, mendengar musik The Beatles seperti mendengar lagu Buddy Holly tanpa vokal. The Beatles memang terpengaruh langsung dengan musik yang dibawakan Buddy Holly dalam perkembangan mereka, tetapi The Beatles membuatnya menjadi berbeda, seperti cake biasa di ubah menjadi SacherTorte. Sama seperti The Beatles, band Girls juga memiliki sound seperti Buddy Holly (baca: mungkin Weezer juga), tetapi mereka mengembangkannya lebih jauh lagi.
Bagi anda yang sering mencermati band Indie asal Amerika, mungkin tidak asing mendengar nama band Indie Rock asal San Francisco ini yang mengawali kariernya lewat single “Lust For Life.” Duet Christopher Owens dan Chet "JR" White sudah mempunyai tempat di scene indie rock Amerika. Album Father, Son, Holy Ghost, adalah album kedua Girls di bawah bendera True Panther Sounds. Jika anda mendengarkan album ini, saya jamin anda akan merasa familiar mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh Girls. Dibuka dengan lagu “Honey Bunny,” dimana riff guitar terdengar seperti lagu “Anarchy In The Uk” Sex Pistols tetapi shuffling beat versi Rockabilly dari Buddy Holly, dan ketika menuju refrain akan terdengar seperti lagu “Kodakchrome” milik Paul Simon. Jika anda penggemar Buddy Holly, cara bernyanyi Christopher Owens di lagu “Honey Bunny” mungkin tidak akan asing di telinga anda. Bagi saya timbre vokal Owens lebih terdengar seperti Buddy Holly dibandingkan Elvis Costello. Lagu kedua “Alex” terdengar pengaruh lagu “Perfect” dan “1979” milik Smashing Pumpkins, tetapi lebih berdinamika. Cara bernyanyi Owens di lagu ini lebih condong mengikuti Rivers Cuomo. Track ketiga “Die,” intro di awal lagu ini, riff guitar, lick bass, dan pukulan drum sangat terpengaruh lagu Muse, “Knights of Cydonia,” tetapi saat vokal Owens masuk ke dalam verse maka akan terdengar struktur verse seperti lagu Deep Purple “Highway Star” jadi perpaduan Muse dan Deep purple ada di dalam lagu ini. Jika anda tidak percaya, maka simaklah dengan teliti ketiga lagu tersebut. Classic Rock menghiasi lagu “Die” tapi sama sekali tak terdengar seperti lagu yang telah usang. Begitupula dengan “Love Like A River” juga mempunyai struktur verse seperti lagu “oh Darling” dari The Beatles. Bagi saya “Love Like A River” lebih sempurna, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada The Beatles. “Love Like A River,” saat menuju coda, Owens membiarkan Soul-pop masuk bersama dengan penyanyi latar yang mengacak-acak pikiran kita dengan senandungnya yang sangat hitam. Father, Son, Holy Ghost analoginya seperti menara imperium yang dibangun dengan batu tanah liat dari Piramida. Girls melalui album ini membuka sejarah panjang musik, dan mewarnainya menjadi gambaran yang lebih indah dan utuh. Girls tidak akan membuat anda bosan, dan mudah anda tebak. Dia seperti bunglon, melompat dari gaya satu ke gaya lainnya dan ia menipu kita, seolah-olah Father, Son, Holy Ghost adalah album kompilasi. Owens membawa kita kepada Buddy Holly, lalu melempar kita ke pelukan Ian Gillan, setelah itu membaringkan kita ke dalam pop yang tidak membuat anda muntah dan kehilangan selera. Lagu pop seperti “Saying I Love You” dan “Love Like A River” sama laiknya mendengar John dan Paul bernyanyi. Lagu pop macam “Jamie Marie,” –pun membuat anda bergidik seperti pertama kalinya mendengar Jeff Buckley menyanyikan “Hallelujah,” entah mengapa saat coda pun, Owens tidak membiarkan lagu ini menjadi membosankan, justru memberi outro organ yang soulful, lalu melelehkan anda dengan rasa penasaran tentang Girls (baca: perempuan).
Bagi anda yang sering mencermati band Indie asal Amerika, mungkin tidak asing mendengar nama band Indie Rock asal San Francisco ini yang mengawali kariernya lewat single “Lust For Life.” Duet Christopher Owens dan Chet "JR" White sudah mempunyai tempat di scene indie rock Amerika. Album Father, Son, Holy Ghost, adalah album kedua Girls di bawah bendera True Panther Sounds. Jika anda mendengarkan album ini, saya jamin anda akan merasa familiar mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh Girls. Dibuka dengan lagu “Honey Bunny,” dimana riff guitar terdengar seperti lagu “Anarchy In The Uk” Sex Pistols tetapi shuffling beat versi Rockabilly dari Buddy Holly, dan ketika menuju refrain akan terdengar seperti lagu “Kodakchrome” milik Paul Simon. Jika anda penggemar Buddy Holly, cara bernyanyi Christopher Owens di lagu “Honey Bunny” mungkin tidak akan asing di telinga anda. Bagi saya timbre vokal Owens lebih terdengar seperti Buddy Holly dibandingkan Elvis Costello. Lagu kedua “Alex” terdengar pengaruh lagu “Perfect” dan “1979” milik Smashing Pumpkins, tetapi lebih berdinamika. Cara bernyanyi Owens di lagu ini lebih condong mengikuti Rivers Cuomo. Track ketiga “Die,” intro di awal lagu ini, riff guitar, lick bass, dan pukulan drum sangat terpengaruh lagu Muse, “Knights of Cydonia,” tetapi saat vokal Owens masuk ke dalam verse maka akan terdengar struktur verse seperti lagu Deep Purple “Highway Star” jadi perpaduan Muse dan Deep purple ada di dalam lagu ini. Jika anda tidak percaya, maka simaklah dengan teliti ketiga lagu tersebut. Classic Rock menghiasi lagu “Die” tapi sama sekali tak terdengar seperti lagu yang telah usang. Begitupula dengan “Love Like A River” juga mempunyai struktur verse seperti lagu “oh Darling” dari The Beatles. Bagi saya “Love Like A River” lebih sempurna, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada The Beatles. “Love Like A River,” saat menuju coda, Owens membiarkan Soul-pop masuk bersama dengan penyanyi latar yang mengacak-acak pikiran kita dengan senandungnya yang sangat hitam. Father, Son, Holy Ghost analoginya seperti menara imperium yang dibangun dengan batu tanah liat dari Piramida. Girls melalui album ini membuka sejarah panjang musik, dan mewarnainya menjadi gambaran yang lebih indah dan utuh. Girls tidak akan membuat anda bosan, dan mudah anda tebak. Dia seperti bunglon, melompat dari gaya satu ke gaya lainnya dan ia menipu kita, seolah-olah Father, Son, Holy Ghost adalah album kompilasi. Owens membawa kita kepada Buddy Holly, lalu melempar kita ke pelukan Ian Gillan, setelah itu membaringkan kita ke dalam pop yang tidak membuat anda muntah dan kehilangan selera. Lagu pop seperti “Saying I Love You” dan “Love Like A River” sama laiknya mendengar John dan Paul bernyanyi. Lagu pop macam “Jamie Marie,” –pun membuat anda bergidik seperti pertama kalinya mendengar Jeff Buckley menyanyikan “Hallelujah,” entah mengapa saat coda pun, Owens tidak membiarkan lagu ini menjadi membosankan, justru memberi outro organ yang soulful, lalu melelehkan anda dengan rasa penasaran tentang Girls (baca: perempuan).


0 komentar:
Posting Komentar