Minggu, 17 Oktober 2010

Robert Johnson: King Of The Delta Blues Singers

Kategori:Musik
JenisBlues
Artis:Robert Johnson

Ketika Brian Jones pertama kali memperkenalkan musik Robert Johnson kepada Keith Richard, pertanyaan pertama yang dilontarkan Keith Richard kepada Brian Jones adalah 'siapa gitaris yang satu lagi?' Keith Richard tidak tahu bahwa hanya Robert Johnson seorang yang bermain gitar. Lahir di Mississippi pada tahun 1911, Robert telah menjadi panutan bagi banyak musisi setelahnya. Kombinasi yang pas antara vokal yang terasa gelap, keras, menghantui, hingga menyejukan dibalut dengan lagu-lagunya yang penuh misteri. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa King Of The Delta Blues Singers menjadi album kompilasi dari musisi Blues Amerika Robert Johnson yang paling berpengaruh dan yang paling terbaik dari album-album Blues terbaik yang pernah ada. King Of The Delta Blues Singers berisi 16 lagu yang di rekam pada tahun 1936-1937, di antaranya Cross Roads Blues, Terraplane Blues, Come On In My Kitchen, Walkin' Blues, Last Fair Deal Gone Down, Kind Hearted Woman Blues, Me And The Devil Blues, Ramblin On My Mind, Travelling Riverside Blues.

Ketika anda mendengarkan keseluruhan lagu di album ini, Robert Johnson tidak sekedar bernyanyi tetapi ia seperti ingin bercerita kepada anda, berkeluh kesah, mengajari anda, berkhotbah, bahkan ia akan membawa anda ke dunianya ketika anda tersadarkan. Lagu-lagunya penuh misteri, bermacam-macam interpretasi dan daya imajinasi, simak saja lagu Cross Roads Blues, yang dianggap sebagian besar orang adalah lagu penyerahan jiwa Robert Johnson kepada iblis. Mitos ini berkembang di pedesaan Mississippi, yang menganggap Robert Johnson menjual dirinya kepada Iblis dipersimpangan jalan (crossroad) di Clarksdale (seputar persimpangan Highway 61 dan Highway 49) untuk menjadi seorang musisi Blues yang hebat. Tetapi Cross Roads Blues justru tidak berbicara mengenai penyerahan jiwa kepada iblis, tetapi membicarakan mengenai penumpangan kendaraan "Standin' at the crossroads, tried to flag a ride." Begitupula lagu-lagu seperti "Me and the Devil" dan "Hellhound on my Trail", membuat banyak orang semakin yakin bahwa Robert Johnson menjual dirinya kepada iblis. Lepas dari segala intrik yang beredar, Robert Johnson selalu menciptakan sound-sound baru, riff-riff gitar slide yang berciri khas. Dengar saja "Ramblin' On My Mind", "Walking Blues", ritme melodi di bagian senar atas Robert Johnson menjadi ciri khas yang kemudian di ikuti musisi Blues setelahnya. Melalui rekaman Robert Johnson di dalam album ini, membuat revolusi gaya permainan musik Delta Blues Mississippi, dan menjadi tonggak musik Blues Chicago. Bagi anda penganut Blues, sebaiknya dan seharusnya anda mendengarkan album Blues ini.


Astral Weeks (Warner Bros.1968)

Kategori:Musik
JenisJazz, Blues, Folk
Artis:Van Morrison

Van Morrison terlihat sedikit introvert, lusuh, dan ringkih, seakan tidak mau di sentuh oleh siapapun ketika datang pertama kali ke studio Century Sound di New York untuk merekam album monumental sepanjang karir bermusiknya, Astral Weeks. Ia masuk ke dalam ruangan kecil di dalam studio, lalu mulai memainkan gitar akustiknya, mencari part guide tracknya; sendiri, hanya ia, gitar ,dan tembok. Van Morrison seorang pria pemalu, pendiam, tertutup, tetapi ia tidak pernah terlihat dan terdengar, sebahagia, dan serapuh penampilannya di Astral Weeks. Ekstase dari album ini seperti cahaya terang di ujung terowongan gelap, anda seperti ingin segera mencapai cahaya tersebut. Astral Weeks berisi lagu-lagu penuh keajaiban, keindahan, kebahagiaan, hingga tiba-tiba anda bisa di buat menangis tidak berdaya, karena album ini terasa sangat misterius, karena anda tidak dapat menentukan kapan anda bisa tertawa dan kapan anda bisa menangis, sehingga sampai detik ini setelah di rilis 42 tahun yang lalu, Astral Weeks sulit di interpretasikan dengan mudah.

Astral Weeks, Beside You, Sweet Thing, Cyprus Avenue, The Way Young Lovers Do, Madame George, Ballerina, Slim Slow Slider, merupakan 8 lagu dalam album Astral Weeks yang keseluruhan liriknya sangat absurd, sulit dimengerti, memiliki ambiguitas, tetapi tidak membosankan untuk selalu mencoba memahaminya, karena Van Morrison seorang puitis yang sangat ekspresionis dan menghibur. Lagu “Madame George” banyak diinterpretasikan banyak orang mengenai banci, tetapi sebenarnya lagu ini adalah imajinasi dari kisah-kisah halusinasi Van Morrison tentang kota kelahirannya Belfast. Ia bagaikan pelukis, dengan suaranya mampu mengubah lirik menjadi sesuatu yang abstrak dan mistis. Repetisi ‘and the love that love…’ di lagu “Madame George” terdengar ajaib, bagaimana bisa ia berpikir untuk memainkan nada seperti itu? “Madame George” penuh kebahagiaan, dibalut dengan struktur lagu pop yang standar tapi rumit jika dimainkan, melodi-melodi Folk Celtic dan R&B Amerika yang teramat cantik, dan cara unik ditampilkan Van Morrison bersama music pengiringnya, ketika lirik terakhir menuju Outro, Van Morrison bersenandung ‘get on the train..’, transfigurasinya terasa seperti ia melambaikan tangan di dalam kereta dan mengucapkan selamat tinggal kepada orang banyak, terdengar ada bunyi kereta yang bergerak di lagu itu, ketika anda terbangun, anda akan sadar itu hanya bunyi ride cymbal drum Connie Kay. “Ballerina” adalah lagu tertua di Astral Weeks, karena diciptakan oleh Van Morrison ketika ia masih menjadi frontman band punk R&B Irlandia, Them. “Ballerina” adalah lagu ketika Van Morrison bertemu dengan calon istrinya pertama kali, terinspirasi saat ia menonton opera balet. Tempo nya sangat konstan, emosi yang selalu di jaga, pengaruh Jazz jelas membalut komposisi lagu ini. Di lagu ini Van Morrison seakan sedang menguji kekuatan fisik vokalnya, ia seperti bermain-main dengan vokalnya.

Secara keseluruhan album ini penuh warna, ada Jazz, Folk, Blues, Rock yang berasimilasi menjadi Astral Weeks, yang terdengar sangat terkonsep. Tetapi album ini sesungguhnya tidak terkonsep. Van Morrison saat awal sesi rekaman hingga akhir tidak memberikan gagasan konsep yang diinginkannya. Richard Davis dan Connie Kay dari Modern Jazz, yang mengiringi Van Morrison mengaku bahwa track dasar album itu diselesaikan dalam satu sesi selama 3 jam, dan Van Morrison tidak menjelaskan apa yang diinginkannya dari para musisi, lalu apa makna dibalik lagu-lagunya. Van Morrison hanya membiarkan mereka berjalan sendiri, karena sesuatu yang dibiarkan mengalir sendiri menghasilkan hal-hal yang murni. Mungkin Van Morrison tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi Van Morrison pernah berkata “Mereka adalah musisi jazz dan pendekatan jazz adalah seperti itu. Mereka bisa mengikuti saya. Saya akan mengatakan kepada mereka: cukup ikuti ke mana saya pergi ... mengikuti suara saya, dan ikuti cara terbaik yang mampu anda lakukan, karena sesuatu yang dibiarkan mengalir adalah murni. Astral Weeks adalah murni, tulus, setiap sudut kehidupan ia jelajahi, Van Morrison tidak pernah terbuka dan telanjang seperti ini lagi.

Are You Experienced (MCA-1967)

Kategori:Musik
JenisRock
Artis:The Jimi Hendrix Experienced

Jimi Hendrix pada awalnya hanya merupakan musisi pengiring Little Richard dan The Isley Brothers, sebelum berimigran ke Inggris pada tahun 1966, mengalami stagnasi dalam bermusik. Ketika sampai ke tanah Inggris, Hendrix diselamatkan oleh Chas Chandler, mantan Bassis The Animals dari stagnasi, lalu segera membentuk The Experience, dengan dibantu oleh pemain Bass Noel Redding dan Drummer Mitch Mitchell. Dalam beberapa minggu mereka dapat menyelesaikan beberapa materi dari album perdananya yang sangat bersejarah dan fenomenal, Are You Experienced. Akhirnya Are You Experienced di rilis di Inggris pada tanggal 12 Mei 1967, album inilah yang meracuni sound Inggris pada akhir tahun 1967 dan awal 1967. Penjualan dan kualitas produksi Are You Experienced berada dibelakang album fenomenal 'Sgt. Pepppers Lonely Hearts Club Band' milik The Beatles yang menempati urutan pertama di Inggris.

Are You Experienced yang telah terjual sekitar 4juta kopi, secara keseluruhan berisi perpaduan antara Feedback gitar yang meringkih (yang akan dilanjutkan oleh genre Seattle Sound), Blues yang lembut sekaligus kasar, dan permainan dari super visi penuh imajinasi kosmik Jimi Hendrix. Simak saja aroma Psychedelia yang di balut dengan komposisi handal dari Hendrix dan hasrat bernyanyi pada lagu Manic Depression, I Don't Live Today, The Wind Cries Mary, yang memberikan nuansa kebebasan perasaan dan berimajinasi secara natural, terlebih lagi pada mahakarya Hendrix dalam lagu 'Purple Haze', yang di buat Hendrix dibelakang panggung sebuah klab malam di London pada bulan Desember 1966, yang kemudian direkam 2 minggu kemudian bersama The Experienced. Purple Haze banyak diasumsikan tentang narkoba, tripping akibat penggunaan LSD, tetapi Hendrix menolak anggapan banyak orang, ia mengatakan 'Purple Haze' adalah lagu tentang dirinya bermimpi berjalan di bawah laut.

Secara keseluruhan, 17 lagu yang tertuang dalam album perdana Jimi Hendrix 'Are You Experienced', menawarkan anda berkeliling angkasa tanpa menggunakan pesawat, lalu menjelajah sesuka hati anda hingga anda melupakan bumi ini. Raungan solo-solo gitar Hendrix yang sarat akan gema dan harmonisasi hingga penambahan-penambahan oktaf yang kemudian di playback dengan kecepatan berkali-kali lipat dalam album ini, membuka era baru dalam ekspresi permainan gitar pada generasi selanjutnya. Chas Chandler pernah berkata kepada Hendrix: "sekarang bukan kamu yang ingin bertemu dengan Eric Clapton, tapi Eric Clapton lah yang ingin bertemu dengan kamu."

Seattle Sound dan Subkultur dibelakangnya...

My girl, my girl, where will you go
I'm going where the cold wind blows
In the pines, in the pines
Where the sun don't ever shine
I would shiver.......the whole night through
(Nirvana "Where You Did Sleep Last Night?" - MTV Unplugged)

Patti Smith mengatakan, ketika Kurt Cobain menyanyikan larik terakhir ' I would shiver.......the whole night through,' suara serak Kurt seperti menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Kurt dapat membangun makna dari lagu tersebut, meski suaranya tidak seindah Sam Cooke ataupun Aretha Franklin, suara kering melengking, rapuh ciri khas musisi asal kota Seattle tersebut dapat menyentuh orang-orang yang mendengarnya. Kurt Cobain dan band yang dibangunnya; Nirvana, memiliki ciri khas tersendiri, yaitu ciri khas Seattle Sound atau yang lebih populer disebut banyak orang 'Grunge.' Seattle Sound awal perkembangannya dimulai ketika era Jimi Hendrix, yang merupakan musisi asli kota Seattle. Jimi Hendrix memperkenalkan literatur permainan gitar penuh ekploitasi distorsi yang high and low, feedback gitar yang meraung-raung, dan sesekali serangan-serangan fuzz. Setelah Jimi Hendrix menyingkir ke London, Inggris, Seattle Sound yang digaungkan Jimi Hendrix seakan terbang begitu saja dan di anggap menjadi bagian dari sound Inggris, terlebih lagi ketika Jimi Hendrix meninggal. Perkembangan Seattle Sound seakan berhenti sampai di situ, tidak ada lagi gairah di kota Seattle.

Seattle yang merupakan negara bagian Washington yang berada di ujung negara Amerika serikat ini, pada tahun 70-80'an menjadi kota mati bagi para musisi. Tidak banyak musisi yang mau memainkan musiknya di kota ini. Selain cuacanya yang dingin (baca: kota hujan) yang membuat orang enggan untuk keluar rumah menonton konser musik, masyarakat kota Seattle adalah orang-orang yang terkenal akan sifat apatis mereka terhadap banyak hal dalam segala aspek kehidupan. Mengapa masyarakat Seattle cenderung bersifat apatis? sifat apatis masyarakat kota Seattle disebabkan oleh kesenjangan sosial yang sangat tinggi di kota tersebut. Kota Seattle seperti di nomor duakan oleh pemerintah setempat. Banyaknya pengangguran, upah yang minim, policy kapitalis yang sangat mencekik, pengisolasian sosial yang tinggi dibandingkan kota-kota lain, harga-harga kebutuhan mahal, yang kemudian akan menyebabkan tingkat kriminalitas yang tinggi. Berdasarkan statistik salah satu lembaga Survey Amerika Serikat, pada tahun 1979, kota Seattle merupakan kota nomor dua yang tingkat penganggurannya terbanyak di Amerika Serikat, yaitu 6,8% berdasarkan hasil penghitungan dari regresi linear. Tingkat pengangguran yang tinggi, pasti akan membuat efek kecemasan dan keputusasaan yang luar biasa bagi masyarakat setempat.

Pola hidup dari kebudayaan kota Seattle yang sudah dijalani sekian lama seperti tidak relevan lagi bagi masyarakat kota Seattle. Beberapa komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan seperti sistem mata pencaharian hidup, sistem kekerabatan atau organisasi sosial, kesenian, bahkan merembet ke religi di kota Seattle seperti mengalami stagnasi. Sistem mata pencaharian telah berubah menjadi sangat kapitalis; dengan memberikan upah minim terhadap para pekerjanya, lapangan pekerjaan yang minim, pemangkasan perusahaan, sedangkan sistem kekerabatan atau perkembangan sosial di kota Seattle yang telah mati rasa; tidak ada rasa percaya lagi dengan sekitarnya, banyaknya kriminalitas, kesenjangan sosial baik di dalam kota maupun di luar, moral dan mental yang menurun drastis akibat rasa frustasi yang mendalam yang disebabkan menurunnya tingkat ekonomi, lalu kesenian di kota Seattle seperti mengalami isolasi; muski-musik yang ditawarkan para musisi kota Seattle di anggap sebelah mata oleh industri musik Amerika Serikat, industri musik seperti hanya fokus terhadap dua kota, yaitu New York dan Los Angeles, yang membuat musisi-musisi Seattle muak, dan berusaha menjauh dari musik-musik popular yaitu glamrock yang membahana ketika akhir 70an-awal 80an, seperti; Motley Crue, Bon Jovi, Poison, Gun N Roses (red: Kurt sering bertengkar dengan AXL Rose). Ketika semuanya serba sulit, maka tidak ada lagi waktu untuk memikirkan religi, bahkan banyak masyarakat kota Seattle yang mengharapkan secepatnya kematian, para remaja cemas akan masa depannya.

Permasalahan sosial yang sangat kompleks, yang merembet ke komponen-komponen utama kebudayaan, menyebabkan chaos dalam struktur kebudayaan itu sendiri, sehingga jika ada kebudayaan yang tidak sejalan sebagaimana mestinya, maka ada 2 hal yang terjadi; pertama, kebudayaan itu akan lenyap, atau kedua, adanya perubahan sosial budaya. Perubahan sosial budaya disebabkan karena adanya gejalanya perubahan dalam struktur sosial dan pola budaya dalam masyarakat tersebut. Perubahan budaya memang lazim terjadi, sejalan perkembangan masyarakat, dan perubahan sosial budaya disebabkan 3 faktor, yaitu; adanya tekanan kerja atau ekonomi dalam masyarakat, tidak sejalan atau tidak efektifnya lagi komunikasi di dalam masyarakat, dan perubahan lingkungan alam. Seattle mengalami tekanan ekonomi yang timpang, rasa kepercayaan dan komunikasi di dalam masyarakat tidak lagi sejalan, maka Seattle berusaha mengubah kebudayaannya, dan sistem sosial yang telah ada dengan membentuk Subkultur, yatitu kebudayaan tandingan. Masyarakat Seattle berusaha membentuk budaya baru, sebagai bentuk protes atau ketidakcocokannya dengan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Subkultur terjadi karena adanya perbedaan dalam berbagai hal, seperti politik, ekonomi, religi, kelas sosial. Seattle memenuhi kriteria untuk berubah, untuk membentuk subkultur.

Pavel Semenov, yang merupakan psikologi asal Rusia mengatakan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan melalui dua cara; pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional, wujud dari cara ini adalah ilmu pengetahuan. Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru, wujud dari hal ini adalah kesenian. Seattle memang berusaha membentuk subkultur dengan mengubah berbagai elemen utama dari kebudayaan induknya, tapi yang cukup signifikan dan membuat suatu inovasi adalah melalui musik mereka. Maka pada awal pertengahan 1980'an, muncul lah genre baru dalam perkembangan musik, yaitu Grunge (baca: Seattle Sound) yang merupakan subgenre dari alternatif rock, yang dikembangkan dari Heavy Metal, dan Hardcore Punk. Tidak heran jika pengaruh Punk mengalir dalam genre Grunge, karena semangat bermusik mereka sama, yaitu sama-sama tertindas dari kesenjangan sosial. Ketukan atau beat musik Punk dan Grunge sangat identik; cepat menghentak, keras, dan kasar. Tema dalam lirik mereka juga hampir sama, berkutat pada kemarahan, rasa frustasi, sikap anti-kemapanan, kebebasan, cuma yang sedikit membedakan mereka adalah sikap apatis dan rasa kecemasan Grunge sangat tebal. Lirik yang berisi sikap apatis, alienansi sosial, rasa kecemasan, keputusasaan, dalam musik Grunge sangatlah mencerminkan kondisi sosial masyarakatnya. Mereka merasa terwakili akan hal itu. Raungan distorsi gitar yang kasar, feedback yang memekakan telinga tetapi tune, fuzz yang kering, beat yang cepat, mewakili perasaan mereka akibat terkukung, terisolasi, dan terpinggirkan. Maka tidak heran, teriakan-teriakan Kurt, Eddie Vedder, Mark Arm, Buzz Osborne, Chris Cornell, yang kering menggigil akan menghantam anda tanpa ampun, mereka seakan-akan ingin bebas, dan mengakhiri semuanya ini sesuka hati mereka.

Pengaruh musik Grunge di di dalam industri musik mainstream di mulai pada akhir 1980-an, yang di awali oleh Soundgarden yang bergabung dengan A&M Records pada tahun 1989, lalu Alice In Chains, hingga Nirvana pada tahun 1990. Pengaruh musik Grunge sangat signifikan hingga seantero jagad memutarkan musik-musik Grunge, banyak band-band yang berupaya mengubah model genrenya menjadi Grunge, banyak industri musik yang akhirnya melirik para musisi-musisi Seattle. Tidak hanya dalam hal musik, Grunge juga menjadi pola hidup para remaja, tidak hanya di Seattle, tapi di seluruh penjuru dunia. Penampilan yang mirip avant-garde, seadanya, cuek, tidak memikirkan kerapian, sembrono, merebak. Penampilan Grunge adalah cerminan dari masyarakat Seattle yang benar-benar sudah tidak peduli lagi akan sekelilingnya, bahkan dirinya sendiri. Subkultur yang diciptakan masyarakat Seattle telah mempengaruhi sekelilingnya, dan mereka berhasil melakukannnya, menandingi kebudayaan popular yang ada selama ini. Salah satunya melalui suara Seattle, semangat Grunge, yang merupakan cerminan dari apa yang mereka rasakan. Meski Seattle Sound atau Grunge sudah jarang lagi terdengar, dan dikatakan banyak pihak telah mati pada awal abad ke-21 oleh post-grunge yang lebih komersial dan serangan-serangan Britpop yang sangat membenci musik-musik Seattle, tetapi pengaruhnya tidak bisa dipungkiri bagi perkembangan musik sampai saat ini. Karena sesungguhnya musik berhenti pada tahun 90'an, yaitu ketika masa-masa Grunge, setelah era Grunge berakhir, semuanya adalah pengulangan.

Seattle sound telah mengubah yang tidak ada menjadi ada, mereka berani keluar dari kurungan yang membelenggu mereka selama ini, mereka berani berteriak tanpa memikirkan apakah sekelilingnya suka atau tidak, karena mereka tidak punya waktu lagi untuk berpikir seperti itu lagi, mereka sudah lama tertindas, dan mereka berhasil melakukannya, membuat semua orang mendengar mereka. Karena perubahan sesungguhnya berawal dari suara-suara yang tertindas.