Beberapa waktu yang lalu, ada mobil colt tua buatan Jepang berwarna biru berhenti di perempatan lampu merah cibubur, yang membuat saya tertarik untuk mendekati mobil itu karena di kaca belakang colt tua tersebut tertempel tulisan 'Gombloh & Lemon Trees'. Saya tidak sempat bertanya panjang lebar dengan pengendara mobil itu, apakah colt tua tersebut mobil yang digunakan untuk akses perjalanan dari panggung ke panggung Gombloh, atau ia hanya seorang penggemar fanatik trubadur macam Gombloh? ah persetan dengan semua prediksi saya, yang pasti seniman seperi Gombloh tidak bisa dilupakan begitu saja bagi banyak orang yang telah mengenal bahkan terpaksa mengenalnya. Lahir dengan nama Soedjarwoto Soemarsono di Jombang, pada tanggal 23 Juli 1950, lelaki berbadan ringkih ini bukan berasal dari keluarga yang mapan, banyak orang bilang ayahnya adalah seorang penjual ayam potong, ada juga yang bilang ayahnya penjual tahu (menurut kakek saya, karena beliau berasal dari jombang), tapi yang pasti Gombloh hidup di keluarga yang ingin mendapatkan sesuatu dibutuhkan perjuangan. Ayahnya selalu berusaha memperjuangkan masa depan anak-anaknya, ia berharap anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin. Gombloh sempat kuliah sampai tingkat dua di Fakultas Arsitektur di Institut Teknologi Surabaya, banyak orang bilang Gombloh keluar dari bangku kuliah karena tidak punya dana, tapi bagi saya ia berhenti kuliah karena instingnya membawa ia untuk serius menggeluti musik. Meski belajar musik secara otodidak, tapi bukan berarti musiknya kacangan. Lelaki yang pernah bercita-cita membentuk orkestra yang berisi 80 orang pemusik ini, pernah bergabung dengan Leo Imam Sukarno (Leo Kristi) dan Franky Sahilatua dengan membentuk grup art rock 'Lemon Trees Anno 69', tapi kemudian mereka berpisah. Gombloh tetap berjalan dengan Lemon Trees yang formatnya berisi; Totok (Drum), Wishnu Padma (Synthesizer), Gatot (Gitar), Tuche (Bass), dan dibantu dua biduanita dan biduan, yaitu Lorena, Reny, dan Ais. Gombloh lalu mengeluarkan album perdananya bersama Lemon Trees yang berjudul 'Nadia & Atmospheer'. Menurut saya pribadi, album ini sangat monumental dan merupakan album masterpiece bagi Gombloh dan Lemon Trees.Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus lenganmu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi gadisku
Malam minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang di saku hampir lengket
Dengan tiga batang dji sam soe
Kusimpan di saku blue jeanku
Kickers loakkan menambah angker tampangku
Kupilih duduk di sudut agak remang
Kutunggu keluar sang putri Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andaikan kau dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat
Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kaya onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada di rumah
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati… Bangsat!!!
Lagu di atas sering diputar ketika saya masih kecil oleh salah satu anggota keluarga kami. Saya meski masih kecil, tapi paham dengan jelas maksud dari lagu tersebut walau sedikit, terlebih lagi nuansa aransemennya di buat sangat Blues dan sedikit repertoir Folk, membuat anak kecil seperti saya ketika itu mampu menikmati musiknya dibalut sedemikian ringan (ketika saya dewasa, merasa lagu tersebut seperti dinyanyikan Bob Dylan tetapi ia mampu berbahasa Indonesia), kata-kata idiom yang suka saya ucapkan adalah 'kalau cinta melekat, tai kucing rasa cokelat...' Lagu di atas berjudul Lepen 'Lelucon Pendek' jika di artikan dalam bahasa Jawa berarti 'got'. Got merupakan tempat genangan air yang kotor, lagu Lepen seperti ingin menceritakan seorang yang berasal dari kalangan bawah (baca: kotor) mencintai gadis cantik dari keluarga yang mapan, dimana keluarganya berharap anaknya mendapat pasangan yang lebih mapan. Apa lacur ternyata anaknya dicintai oleh lelaki jalanan yang tidak karuan. Departemen liriknya sangat sederhana, meski dibalut dengan beberapa personifikasi, tetapi tidak sulit dipahami. Lagu Lepen, Gombloh sepertinya ingin mewakili kaum kelas bawah, bahwa mereka pantas mencintai siapa saja, karena cinta anak manusia bebas mencintai siapa saja dan mengajarkan sikap pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu. lagu tersebut sangat kontekstual dengan apa yang terjadi di masyarakat. Gombloh merupakan personal yang unik, karena jarang seorang seniman musik yang selalu berjuang mengangkat isu-isu yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat kelas bawah, serta selalu memanifestasikan kecintaaan pada tanah air tanpa harus berkoar-koar. Simak saja lagu '3600 detik', bagaimana seorang Gombloh menciptakan lagu dalam satu jam pengamatannya kepada seorang ibu dan anak yang menggelandang di jalanan, dan ada 'Doa Seorang Pelacur' dimana Gombloh menyewa Perempuan pekerja seks komersial (PSK) dibawanya masuk ke studio hanya untuk mengamati perempuan itu untuk mendapatkan inspirasi, lalu ada 'Nyanyi Anak Seorang Pancuri', 'Poligami Poligami', 'Kilang Kilang', 'Selamat Pagi Kota ku', dan masih banyak karya-karyanya yang mengangkat kritik sosial, karena Gombloh adalah seorang yang anti kemapanan, dan memiliki rasa sosial yang tinggi.
Jangan pernah mempertanyakan seberapa besar kadar nasionalisme seorang Gombloh. Gombloh selalu intens memanifestasikan kekagumannya dan rasa hormatnya kepada tanah air dalam setiap karya-karyanya. Lihat saja lagu monumental seperti 'Kebyar-Kebyar', yang membangkitkan semangat nasionalis tanpa harus menepuk dada dengan di iringi oleh irama mars, tetapi hanya cukup dibalut selongsong musik pop. Lagu 'Kebyar-Kebyar' tidak di compose dengan nada-nada perjuangan yang heroik, nada suara yang harus mencapai bebarapa oktaf hingga menggelegar, tetapi hanya dibawakan dengan suara sederhana, di balik kesederhanaan tersebut tersimpan kejujuran seorang Gombloh yang memiliki jiwa cinta tanah air nya. Lagu 'Kebyar-Kebyar' bisa di sejajarkan dengan 'Berkibarlah Benderaku' karya Ibu Sud dan 'Padamu Negeri' karya Kusbini. Selain itu, Gombloh menciptakan karya-karya lain yang berjiwa nasionalisme seperti lagu eksperimental tradisional Jawa Kuno 'Dewa Ruci, Pesan Buat Negeriku, Indonesia Kami Indonesiaku Indonesiamu, Gugur Bunga, Bk, Gaung Mojokerto-Surabaya'. Seorang Gombloh juga sangat mempedulikan keharmonisan antara makrokosmos dan mikrokosmos, di antaranya hubungan manusia dengan alam, Gombloh mentransformasikan perasaan terhadap alam ke dalam lagu masterpece seperti 'Berita Cuaca' tahun 1982. Berita Cuaca mengingatkan kita jauh-jauh hari untuk melestarikan alam ini, bukan membalak liar pohon, sehingga hutan menjadi gundul dan tidak ada lagi resapan air sampai kemudian banjir meluap. Sangat kontekstual dengan keadaan saat ini, Gombloh seperti telah pergi jauh berpikir dari orang-orang sezamannya. Orang-orang pun menganggap Gombloh adalah orang sakti, mampu berpikir di saat orang lain tidak mau berpikir, mau bereksperimental saat orang lain takut bereksperimental. Simak pula lagu 'Dimensi Antar Ruang', di mana Gombloh melakukan percakapan dengan Alien yang mempertanyakan keadaan negara Indonesia, menurut saya ini adalah hal yang aneh bagi seniman di zamannya. Bagaimana bisa ia berimajinatif membuat lagu seperti itu? Sampai-sampai Gombloh mampu memprediksi ia akan meninggal dengan penyakit jantung di dalam lagunya yang berjudul 'Tetralogi Fallot' (menurut saya seperti itu maksudnya).
Pada akhirnya lelaki yang selalu bertrademark tubuh kerempeng, rambut di kuncir, kacamata hitam, bertopi ini meninggal pada tanggal 9 Januari 1988 di surabaya karena penyakit jantung sesuai lagunya 'Tetralogi Fallot' di tambah TBC akut yang idapnya sekian lama. Kepergiannya menyisakan kesedihan hingga kekecewaan banyak pihak hingga sekarang. Gombloh dianggap telah berkhianat dengan idealisme yang dipegangnya selama ini dengan membuat album komersial 'Apel' pada tahun 1986, lewat tembang-tembang hitsnya macam 'Ku Gadaikan Cintaku, Apel, Hey Kamu, Arjuna Cari Cinta, hingga konsumsi Cinta.' Gombloh memang mendapatkan ketenaran yang lebih dibandingkan album-album sebelumnya, albumnya mampu menembus 1 juta keping menurut berbagai sumber, tetapi ia mulai di tinggalkan penggemar lamanya yang kecewa atas keputusannya terjun ke dunia mainstream. Saya berbeda dengan pendapat banyak orang yang mengatakan ia melakukan hal tersebut dengan pragmatis, dan melacur dengan menciptakan karya cengeng seperti itu. Menurut pendapat saya, Gombloh memilih jalur mainstream karena ia ingin membuktikan dirinya sendiri bahwa ia juga mampu sukses di jalur lagu komersial, hasilnya? ia dapat membuktikan kepada dirinya sendiri dan orang banyak yang meragukan ia mampu membuat karya yang komersial, dan dapat menjadi personal sub-kultur pop yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Satu hal yang jangan dilupakan kenapa ia memilih jalur mainstream, yaitu kepedulian sosialnya yang tinggi terhadap sesamanya hingga para pelacur sekalipun. Gombloh terkenal dengan rasa sosial yang tinggi, ia selalu mentraktir temannya dengan uang hasil panggungnya, memberikan baju kepada orang banyak yang meminta, hingga pernah suatu saat orang banyak mengatakan bahwa Gombloh pernah membelikan kutang (Beha) 1 becak penuh kepada perempuan-perempuan pekerja seks komersial di Dolly (lokalisasi di Surabaya). Saya rasa keputusannya untuk membuat lagu komersial, agar ia mampu meraup uang sebanyak-banyaknya kemudian uang itu mampu ia bagikan kepada sesamanya. Seharusnya orang-orang yang kecewa terhadapnya harus mengubah mastermind nya terhadap gombloh, karena menurut saya pribadi, gombloh patut di sejajarkan sebagai pahlawan di bidang musik, sehingga ia patut di kenang dan di hargai sebagaimana mestinya, karena Gombloh telah menjadikan karya-karyanya sebagai dimensi antar ruang bagi orang banyak....





