Jumat, 09 April 2010

Gombloh dan Dimensi Antar Ruang....

Beberapa waktu yang lalu, ada mobil colt tua buatan Jepang berwarna biru berhenti di perempatan lampu merah cibubur, yang membuat saya tertarik untuk mendekati mobil itu karena di kaca belakang colt tua tersebut tertempel tulisan 'Gombloh & Lemon Trees'. Saya tidak sempat bertanya panjang lebar dengan pengendara mobil itu, apakah colt tua tersebut mobil yang digunakan untuk akses perjalanan dari panggung ke panggung Gombloh, atau ia hanya seorang penggemar fanatik trubadur macam Gombloh? ah persetan dengan semua prediksi saya, yang pasti seniman seperi Gombloh tidak bisa dilupakan begitu saja bagi banyak orang yang telah mengenal bahkan terpaksa mengenalnya. Lahir dengan nama Soedjarwoto Soemarsono di Jombang, pada tanggal 23 Juli 1950, lelaki berbadan ringkih ini bukan berasal dari keluarga yang mapan, banyak orang bilang ayahnya adalah seorang penjual ayam potong, ada juga yang bilang ayahnya penjual tahu (menurut kakek saya, karena beliau berasal dari jombang), tapi yang pasti Gombloh hidup di keluarga yang ingin mendapatkan sesuatu dibutuhkan perjuangan. Ayahnya selalu berusaha memperjuangkan masa depan anak-anaknya, ia berharap anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin. Gombloh sempat kuliah sampai tingkat dua di Fakultas Arsitektur di Institut Teknologi Surabaya, banyak orang bilang Gombloh keluar dari bangku kuliah karena tidak punya dana, tapi bagi saya ia berhenti kuliah karena instingnya membawa ia untuk serius menggeluti musik. Meski belajar musik secara otodidak, tapi bukan berarti musiknya kacangan. Lelaki yang pernah bercita-cita membentuk orkestra yang berisi 80 orang pemusik ini, pernah bergabung dengan Leo Imam Sukarno (Leo Kristi) dan Franky Sahilatua dengan membentuk grup art rock 'Lemon Trees Anno 69', tapi kemudian mereka berpisah. Gombloh tetap berjalan dengan Lemon Trees yang formatnya berisi; Totok (Drum), Wishnu Padma (Synthesizer), Gatot (Gitar), Tuche (Bass), dan dibantu dua biduanita dan biduan, yaitu Lorena, Reny, dan Ais. Gombloh lalu mengeluarkan album perdananya bersama Lemon Trees yang berjudul 'Nadia & Atmospheer'. Menurut saya pribadi, album ini sangat monumental dan merupakan album masterpiece bagi Gombloh dan Lemon Trees.

Bagiku sinar mentari tak seindah matamu
Untukku elusan angin tak semulus lenganmu
Tak perduli omongan temanku
Tak perduli resiko untukku
Aku naksir kamu kau jadi gadisku

Malam minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang di saku hampir lengket
Dengan tiga batang dji sam soe
Kusimpan di saku blue jeanku
Kickers loakkan menambah angker tampangku

Kupilih duduk di sudut agak remang
Kutunggu keluar sang putri Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andaikan kau dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat

Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kaya onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada di rumah
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati… Bangsat!!!

Lagu di atas sering diputar ketika saya masih kecil oleh salah satu anggota keluarga kami. Saya meski masih kecil, tapi paham dengan jelas maksud dari lagu tersebut walau sedikit, terlebih lagi nuansa aransemennya di buat sangat Blues dan sedikit repertoir Folk, membuat anak kecil seperti saya ketika itu mampu menikmati musiknya dibalut sedemikian ringan (ketika saya dewasa, merasa lagu tersebut seperti dinyanyikan Bob Dylan tetapi ia mampu berbahasa Indonesia), kata-kata idiom yang suka saya ucapkan adalah 'kalau cinta melekat, tai kucing rasa cokelat...' Lagu di atas berjudul Lepen 'Lelucon Pendek' jika di artikan dalam bahasa Jawa berarti 'got'. Got merupakan tempat genangan air yang kotor, lagu Lepen seperti ingin menceritakan seorang yang berasal dari kalangan bawah (baca: kotor) mencintai gadis cantik dari keluarga yang mapan, dimana keluarganya berharap anaknya mendapat pasangan yang lebih mapan. Apa lacur ternyata anaknya dicintai oleh lelaki jalanan yang tidak karuan. Departemen liriknya sangat sederhana, meski dibalut dengan beberapa personifikasi, tetapi tidak sulit dipahami. Lagu Lepen, Gombloh sepertinya ingin mewakili kaum kelas bawah, bahwa mereka pantas mencintai siapa saja, karena cinta anak manusia bebas mencintai siapa saja dan mengajarkan sikap pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu. lagu tersebut sangat kontekstual dengan apa yang terjadi di masyarakat. Gombloh merupakan personal yang unik, karena jarang seorang seniman musik yang selalu berjuang mengangkat isu-isu yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat kelas bawah, serta selalu memanifestasikan kecintaaan pada tanah air tanpa harus berkoar-koar. Simak saja lagu '3600 detik', bagaimana seorang Gombloh menciptakan lagu dalam satu jam pengamatannya kepada seorang ibu dan anak yang menggelandang di jalanan, dan ada 'Doa Seorang Pelacur' dimana Gombloh menyewa Perempuan pekerja seks komersial (PSK) dibawanya masuk ke studio hanya untuk mengamati perempuan itu untuk mendapatkan inspirasi, lalu ada 'Nyanyi Anak Seorang Pancuri', 'Poligami Poligami', 'Kilang Kilang', 'Selamat Pagi Kota ku', dan masih banyak karya-karyanya yang mengangkat kritik sosial, karena Gombloh adalah seorang yang anti kemapanan, dan memiliki rasa sosial yang tinggi.

Jangan pernah mempertanyakan seberapa besar kadar nasionalisme seorang Gombloh. Gombloh selalu intens memanifestasikan kekagumannya dan rasa hormatnya kepada tanah air dalam setiap karya-karyanya. Lihat saja lagu monumental seperti 'Kebyar-Kebyar', yang membangkitkan semangat nasionalis tanpa harus menepuk dada dengan di iringi oleh irama mars, tetapi hanya cukup dibalut selongsong musik pop. Lagu 'Kebyar-Kebyar' tidak di compose dengan nada-nada perjuangan yang heroik, nada suara yang harus mencapai bebarapa oktaf hingga menggelegar, tetapi hanya dibawakan dengan suara sederhana, di balik kesederhanaan tersebut tersimpan kejujuran seorang Gombloh yang memiliki jiwa cinta tanah air nya. Lagu 'Kebyar-Kebyar' bisa di sejajarkan dengan 'Berkibarlah Benderaku' karya Ibu Sud dan 'Padamu Negeri' karya Kusbini. Selain itu, Gombloh menciptakan karya-karya lain yang berjiwa nasionalisme seperti lagu eksperimental tradisional Jawa Kuno 'Dewa Ruci, Pesan Buat Negeriku, Indonesia Kami Indonesiaku Indonesiamu, Gugur Bunga, Bk, Gaung Mojokerto-Surabaya'. Seorang Gombloh juga sangat mempedulikan keharmonisan antara makrokosmos dan mikrokosmos, di antaranya hubungan manusia dengan alam, Gombloh mentransformasikan perasaan terhadap alam ke dalam lagu masterpece seperti 'Berita Cuaca' tahun 1982. Berita Cuaca mengingatkan kita jauh-jauh hari untuk melestarikan alam ini, bukan membalak liar pohon, sehingga hutan menjadi gundul dan tidak ada lagi resapan air sampai kemudian banjir meluap. Sangat kontekstual dengan keadaan saat ini, Gombloh seperti telah pergi jauh berpikir dari orang-orang sezamannya. Orang-orang pun menganggap Gombloh adalah orang sakti, mampu berpikir di saat orang lain tidak mau berpikir, mau bereksperimental saat orang lain takut bereksperimental. Simak pula lagu 'Dimensi Antar Ruang', di mana Gombloh melakukan percakapan dengan Alien yang mempertanyakan keadaan negara Indonesia, menurut saya ini adalah hal yang aneh bagi seniman di zamannya. Bagaimana bisa ia berimajinatif membuat lagu seperti itu? Sampai-sampai Gombloh mampu memprediksi ia akan meninggal dengan penyakit jantung di dalam lagunya yang berjudul 'Tetralogi Fallot' (menurut saya seperti itu maksudnya).

Pada akhirnya lelaki yang selalu bertrademark tubuh kerempeng, rambut di kuncir, kacamata hitam, bertopi ini meninggal pada tanggal 9 Januari 1988 di surabaya karena penyakit jantung sesuai lagunya 'Tetralogi Fallot' di tambah TBC akut yang idapnya sekian lama. Kepergiannya menyisakan kesedihan hingga kekecewaan banyak pihak hingga sekarang. Gombloh dianggap telah berkhianat dengan idealisme yang dipegangnya selama ini dengan membuat album komersial 'Apel' pada tahun 1986, lewat tembang-tembang hitsnya macam 'Ku Gadaikan Cintaku, Apel, Hey Kamu, Arjuna Cari Cinta, hingga konsumsi Cinta.' Gombloh memang mendapatkan ketenaran yang lebih dibandingkan album-album sebelumnya, albumnya mampu menembus 1 juta keping menurut berbagai sumber, tetapi ia mulai di tinggalkan penggemar lamanya yang kecewa atas keputusannya terjun ke dunia mainstream. Saya berbeda dengan pendapat banyak orang yang mengatakan ia melakukan hal tersebut dengan pragmatis, dan melacur dengan menciptakan karya cengeng seperti itu. Menurut pendapat saya, Gombloh memilih jalur mainstream karena ia ingin membuktikan dirinya sendiri bahwa ia juga mampu sukses di jalur lagu komersial, hasilnya? ia dapat membuktikan kepada dirinya sendiri dan orang banyak yang meragukan ia mampu membuat karya yang komersial, dan dapat menjadi personal sub-kultur pop yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Satu hal yang jangan dilupakan kenapa ia memilih jalur mainstream, yaitu kepedulian sosialnya yang tinggi terhadap sesamanya hingga para pelacur sekalipun. Gombloh terkenal dengan rasa sosial yang tinggi, ia selalu mentraktir temannya dengan uang hasil panggungnya, memberikan baju kepada orang banyak yang meminta, hingga pernah suatu saat orang banyak mengatakan bahwa Gombloh pernah membelikan kutang (Beha) 1 becak penuh kepada perempuan-perempuan pekerja seks komersial di Dolly (lokalisasi di Surabaya). Saya rasa keputusannya untuk membuat lagu komersial, agar ia mampu meraup uang sebanyak-banyaknya kemudian uang itu mampu ia bagikan kepada sesamanya. Seharusnya orang-orang yang kecewa terhadapnya harus mengubah mastermind nya terhadap gombloh, karena menurut saya pribadi, gombloh patut di sejajarkan sebagai pahlawan di bidang musik, sehingga ia patut di kenang dan di hargai sebagaimana mestinya, karena Gombloh telah menjadikan karya-karyanya sebagai dimensi antar ruang bagi orang banyak....

Tunjangan Hari Tua Untuk Para Musisi...

Pada bulan Februari 2005, pengadilan banding kota Tennesse memutuskan bahwa Hank Williams jr. dan Jett Williams anak dari penyanyi country legendaris Hank Williams memilki hak tunggal untuk menjual rekaman milik bapak dari musik country tersebut. Penggugatan disebabkan karena Polygram Records telah melakukan tindakan komersial karya-karya Hank Williams tanpa sepengetahuan sang ahli waris dari penyanyi I'm So Lonesome I Could Cry ini. Kasus seperti ini banyak menimpa artis-artis yang bergerak di industri musik. Penggunaan lagu untuk film, iklan, acara, dan hal-hal lain yang berbau komersial tanpa sepengetahuan pencipta lagu tersebut merupakan suatu pelanggaran hak cipta dan merupakan suatu kerugian yang besar. Seharusnya pencipta lagu dapat menikmati hari tua nya dengan menerima royalti dari penggunaan lagu yang diciptakannya. Ambil contoh Gesang Martohartono, sang maestro keroncong pencipta lagu evergreen 'Bengawan Solo' ini, setiap tahunnya mendapat royalti dari hasil penggunaan lagunya baik di dalam maupun luar negeri. Pada tahun 2008 saja, Gesang mendapatkan royalti sebesar kurang lebih 70 juta rupiah dari penggunaan lagunya secara komersial. Gesang dapat menikmati hari tua nya berkat bantuan jasa dari penerbit musik (Music Publishing). Penerbit musik yang menaungi Gesang adalah Penerbit Musik Pertiwi di bawah bendera label rekaman Gema Nada Pertiwi.

Pada perkembangan sejarahnya, penerbitan musik di mulai pada abad ke-15, di mana pada saat itu belum ditemukan teknologi yang dapat merekam ataupun memutar lagu. Para komposer yang hidup pada era tersebut yang mengabdi di gereja, membuat musik dengan cara menuliskan komposisi lagunya di atas kertas (sheet music) untuk mengingat aransemen dan komposisi dari lagu yang telah mereka ciptakan, hal ini berlaku di kalangan komposer klasik pada zaman itu. Ketika ditemukan gramafon pada awal abad ke-20, maka penerbitan musik melalui media sheet music mengalami kemunduran. Penerbit musik terasa sangat dibutuhkan di era seperti sekarang ini, untuk melindungi karya-karya dari artis musik yang merupakan hak kekayaan intelektual mereka, yang dapat menjamin kehidupan masa yang akan datang. Penerbit musik memilki tugas dan kewenangan dalam mengelola administrasi dan mengkomersialisasikan lagu artis yang bersangkutan. Keuntungan yang diperoleh komposer atau pencipta lagu dengan penerbit musik adalah 50:50. Anda sebagai pencipta lagu mendapatkan royalti sebesar 50%, sedangkan penerbit musik yang telah menjaga karya anda, mengkomersialkan lagu anda, serta mengelola administrasi dari lagu anda mendapat keuntungan 50% dari royalti yang di dapat, sepadannya seperti itu.

Banyak sekali penerbit musik yang berdiri di tanah air ini, diantaranya adalah penerbit musik besar seperti Musica Publishing, Nagaswara Publisherindo, Aquarius Pustaka Musik. Selain itu masih banyak pula penerbit musik kecil. Semakin besar penerbit musik, semakin besar juga daya saing lagu anda dengan lagu-lagu lain yang masuk di dalam katalog penerbit musik tersebut, terlebih lagi pengaruh anda di dalam industri musik tidak terlalu signifikan, mungkin karya anda akan di museumkan. Oleh karena itu tidak salah juga jika kita memilih penerbit musik kecil untuk menangani lagu kita. Dari segi penanganan, mungkin karya kita akan diutamakan serta diperjuangkan secara maksimal, tetapi kelemahannya penerbit musik tidak terlalu lihai dalam menangani hal-hal hingga permasalahan yang besar, setelah itu pengeksploitasian dalam mengkomersialkan lagu kita tidak seluas penerbit musik besar yang memiliki banyak link. Hal yang lebih sulit lagi adalah jika kita lebih memilih jalur penerbitan musik secara individu (Self-Publishing). Pengontrolan lagu yang kita ciptakan agar tidak dikomersialkan oleh pihak tertentu tanpa sepengetahuan kita sebagai pencipta lagu sangat sulit. Bagaimana bisa kita mengontrol sendiri lagu kita, tanpa bantuan dan kerjasama banyak pihak. Cara ini pernah dilakukan Yockie Suryoprayogo, Fariz RM, Erros Djarot, yang melakukan self-publishing. Banyak alternatif pilihan untuk menerbitkan musik anda, terkandung bagaimana pilihan yang kita inginkan dan kita anggap nyaman. Tapi sebelum anda terjun ke dalam penerbit musik, terlebih dahulu menyiapkan pengacara hiburan (Entertainment Lawyer), karena pengacara seperti ini sangat dibutuhkan, ia sangat memahami bisnis dalam industri musik, sehingga biar anda merupakan artis pemula, anda tidak akan mudah tertipu dari berbagai macam bujukan penerbitan musik, karena artis pemula sangat riskan dalam hal penipuan seperti ini.

Jadi persiapkan diri anda jika ingin masuk ke dalam lembaga penerbit musik. Penerbit musik mana yang anda inginkan, jangan terlalu terburu-buru menandatangani kontrak dengan penerbit musik, perlu dipelajari dengan detail kontrak yang ditawarkan. Royalti yang anda dapat apakah sinkron dengan yang anda harapkan, seberapa besar eksploitasi lagu anda dikomersialkan, seberapa aman lagu anda di kontrol, di jaga hingga di bantu dalam hukum jika terjadi komersial lagu tanpa sepengetahuan penerbit musik dan anda sebagai pencipta lagu tersebut. Sebelum bergabung dengan penerbit musik, hal yang paling perlu dipertimbangkan adalah, seberapa besarkah anda di dalam industri musik? jika anda memiliki level status sebagai musisi legendaris, maka nilai tawar kontrak anda akan besar, jika anda adalah musisi yang bukan something, maka anda perlu rajin-rajin berdoa mengalami cobaan menjadi seorang musisi pemula. Terlepas dari itu semua, penerbit musik sangat kita butuhkan, karena menjamin hari tua sang pencipta lagu atau komposer. Birapun band anda bubar, anda tetap mendapat royalti jika lagu anda dipakai oleh pihak tertentu. Menurut UU Hak Cipta No.19/2002, pencipta lagu atau komposer mendapat royalti seumur hidup di tambah 75 tahun setelah komposer tersebut meninggal dunia, setelah menunjuk ahli waris yang berhak di hibahkan, melewati waktu tersebut, maka hak dipegang oleh negara. Jadi siapa bilang musisi tidak punya tunjangan pensiun di hari tua mereka?.....

Musik Itu Harus Membangun.....

When the sun come shining, then I was strolling
In wheat fields waving and dust clouds rolling;
The voice was chanting as the fog was lifting:
(God blessed America for me)
One bright sunny morning in the shadow of the steeple
By the Relief Office I saw my people --
As they stood hungry, I stood there wondering if
(God blessed America for me?)

Penggalan lirik di atas merupakan lagu This Land Is Your Land milik Woody Guthrie, penyanyi folk yang kemudian banyak di cover oleh berbagai artis, seperti Peter, Paul & Mary. Jika ada lagu yang sering di cover oleh berbagai artis, dapat dikatakan bahwa lagu tersebut banyak memberikan sentuhan yang mendalam, dan dapat memberikan transfigurasi khusus bagi yang mendengarkannya. Lagu This Land Is Your Land dapat memberikan inspirasi bagi yang mendengarnya, lagu tersebut sangat kontekstual hingga saat ini. Lirik di atas merupakan suatu bentuk protes Woody Guthrie terhadap lagu Irving Berlin yang selalu di putar di radio-radio amerika yaitu 'God Bless America'. Woody berpikir bahwa lagu tersebut tidaklah realistis dan merasa ada suatu kepuasan diri dalam diri masyarakat akan kondisi amerika serikat, yang dalam kenyataannya masih banyak orang-orang kelaparan di bawah gedung-gedung tinggi yang sedang dibangun pemerintah, pembatasan hak-hak masyarakat tertentu. Jadi menurut Woody, semua adalah omong kosong jika banyak orang amerika mengatakan bahwa gurun di amerika merupakan taburan berlian, lembah amerika adalah emas, tapi masih banyak anak-anak kelaparan, pembatasan hak warga negara oleh pemerintah, pembodohan pemerintah terhadap rakyatnya (saya teringat akan lagu Koes Plus 'kolam susu' : "bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu...")

Sesungguhnya Amerika diberkati, begitupun Indonesia, maka jika ada hal yang tidak sesuai sebagaimana mestinya, Woody Guthrie bersikap protes terhadap pemerintahan yang represif. Puluhan bahkan ribuan tulisan hingga lagu-lagu protes ditulis oleh Woody untuk mengubah tatanan kehidupan agar lebih baik. Gaya idiomatik repertoar Woody Guthrie menginspirasi Elliot, hingga Bob Dylan dalam menyanyikan lagunya. Musik Folk yang di anut oleh Woody berubah menjadi musik yang kontroversial bagi pemerintah. Musik Folk sudah lama memproteskan segala kebijakan pemerintah, dan sosial jauh jika dibandingkan dengan musik reggae, hingga punk sekalipun. Simak saja lagu Like A Rolling Stone milik Bob Dylan, Bob seakan-akan sebagai perpanjangan tangan para Hippies, orang-orang miskin yang ditindas oleh masyarakat kelas atas. Bob seperti menegur keras mereka, seperti Tuhan menegur adam dan hawa di taman eden. Dengarkan juga lagu 'To Ramona' milik Dylan, bagaimana seorang kulit putih seperti Dylan mencoba menghibur wanita kulit hitam, ketika saat itu terjadi diskriminasi ras kulit hitam lewat politik apartheid, menjadi ditabukan jika orang kulit putih bersentuhan dengan kulit hitam, tetapi Dylan menyingkirkan hal tersebut, bahkan Dylan mau menangis di bahu wanita itu. Jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa musik tidak hanya digunakan untuk menghibur, setelah didengar habis sudah, tidak ada makna yang bisa di ambil. Lagu dibentuk dari komposisi notasi dan lirik, lirik berperan penting dalam membangun jiwa suatu lagu, lirik seperti perpanjangan mulut sang pencipta lagu, pesan apa yang ingin disampaikan kepada para pendengarnya. Lagu yang berisi notasi dan lirik dapat memberikan inspirasi para pendengarnya untuk menjalani hidup ini, contoh jika ada yang berniat untuk bunuh diri akibat cinta, maka setelah mendengar lagu Return 'life must go on' mungkin akan merampungkan niatnya untuk bunuh diri dan menjalani hidup ini lagi, bisa saja jika orang tersebut mendengarkan lirik lagu 'Kill Myself' milik Tim McGraw, maka niscaya orang tersebut akan mendapatkan impuls untuk bunuh diri.

Lagu dapat menggerakkan seseorang bahkan ratusan ribu orang untuk melakukan perubahan dan mengubah hidup mereka masing-masing. Lagu juga dapat bergerak ke arah politik (baca: asal bukan mendukung kampanye partai politik, seperti band-band di Indonesia), yang dapat melawan pemerintahan yang represif dan cenderung pasif terhadap nasib masyarakat. Simak saja Victor Jara salah satunya, musisi asal Chile yang selalu memprotes pemerintahan Jendral Pinnochet lewat lagu-lagunya. Victor Jara seperti ingin menyalurkan aspirasi rakyat atas pemerintahan Chile yang diktator. Musisi yang baik adalah musisi yang tidak bersikap introvert, yang tidak mau memikirkan hal-hal di luar kepentingan pribadinya. Musik tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan kepopularitasan, dan materi semata, tetapi bagaimana kita bisa mengubah hidup seseorang lewat lagu yang kita nyanyikan. Sesungguhnya kita mempunyai sesorang ekstrovert di dalam diri Harry Roesli, hingga Iwan Fals. Iwan Fals dapat menyalurkan aspirasi rakyat kecil lewat lagu-lagu yang dibawakannya, dan tetap kontekstual hingga sekarang. Simak saja lagu-lagu Iwan seperti Pesawat Tempur, Oemar Bakri, Ambulan Zig Zag, Sarjana Muda, sedikit dari beberapa lagu Iwan yang maknanya tetap kontekstual hingga sekarang. Pesawat Tempur mengkritisi pengangguran, hingga mengkritik pemerintah akibat menghambur-hamburkan uang untuk perang, Oemar Bakri mengkritik pemerintah karena sangat kecil sekali gaji pahlawan tanpa tanda jasa tersebut (sekarang para guru harus berterima kasih kepada Iwan Fals, karena gaji guru sudah lumayan naik), dan merebaknya perkelahian (baca:tawuran) antar siswa, Ambulan Zig-Zag, mengkritisi pihak Rumah Sakit yang mengutamakan administrasi dibandingkan pertolongan pertama pada kecelakaan, Sarjana Muda mengilustrasikan bahwa banyak sekali sarjana yang tidak kerja, usaha 4 tahun tekun belajar tidak ada hasilnya karena sangat sedikit sekali lapangan pekerjaan. Lagu-lagu Iwan seperti menjadi obat pelipur lara masyarakat kelas bawah, dan mereka merasa terwakili. Tidak heran jika hanya masyarakat kelas bawah yang menikmati lagu-lagu Iwan, karena mereka tahu apa itu arti kemiskinan.

Seharusnya lagu dapat membangun dan mengubah sesuatu hal. Lirik lagu jangan berbentuk epigonisme, tidak memiliki gagasan baru dan mengikuti arus pasar, seperti yang terjadi saat ini, penghomogenan lagu cinta. Tidak salah menulis lagu cinta, karena itu dibutuhkan. Tetapi hidup ini tidak hanya soal cinta, tapi masalah perut, keadilan, hingga hubungan manusia dengan manusia, dan alam. Karena lagu harus membangkitkan, bukan menjatuhkan, harus menyenangkan, bukan menyuramkan, harus menggerakkan, bukan merontokkan. Simak saja apa kata-kata Woody Guthrie "Aku benci lagu yang membuat Anda berpikir bahwa Anda tidak ada gunanya. Aku benci lagu yang membuat Anda berpikir bahwa Anda hanya dilahirkan untuk kalah. Aku sudah keluar untuk menyanyikan lagu-lagu yang membuat Anda bangga pada diri sendiri dan dalam pekerjaan Anda.."

Musik Kini Kandas di Rerumputan......

Jika ingin mendadak menjadi jutawan, ciptakan lagu, aransemen, lalu rekam di dalam studio recording, kemudian kirim ke salah satu label musik terkemuka. Analaoginya memang seperti itu jika kita hidup sekitar 2 dasawarsa ke belakang, ketika Sheila On 7 memperkenalkan akronim 'band jutaan kopi' yang disematkan ke pundak mereka. Erros Chandra (baca:gitaris&Frontman band Sheila On 7) mendapatkan gelar pria lajang muda terkaya seantero Indonesia saat itu. Mimpi menjadi jutawan menjadi hal yang tidak ditabukan lagi. Band dan Label Musik menjadi simbiosis mutualisme yang sama-sama saling menguntungkan, pembajakan belum terlalu menggila, minat masyarakat membeli kaset ataupun CD original masih tinggi. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, dunia industri musik Indonesia sudah diambang jurang, jika disentuh sedikit lagi akan jatuh ke dalam labirin kegelapan yang tiada putus-putusnya. Label musik telah menjadi gurita kapital terbesar dalam sejarah permusikan Indonesia, yang melilit para seniman musik Indonesia dari segala penjuru. Label musik telah melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap musisi Indonesia. belakangan banyak label rekaman melakukan ekspansi bisnis dengan membuka divisi manajemen artis. Hal ini justru bertentangan dengan esensi awal dari label itu sendiri. Namanya saja sudah label rekaman, seharusnya berhubungan dengan rekaman, penjualan kaset, CD, RBT, dan sebagaimana mestinya yang berkorelasi dengan rekaman.

Pembukaan divisi manajemen artis menurut pandangan saya adalah sesuatu hal yang inkompeten. Selain mengeksplotasi habis-habisan artis tersebut, dengan adanya manajemen baru akan mengebiri manajemen lama. Manajemen lama hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru, seperti makan gaji buta. Impuls terbesar label rekaman membuka divisi manajemen artis dipengaruhi oleh kondisi industri musik Indonesia yang luluh lantah. Penjualan album fisik yang mati total, pembajakan di sana-sini, membuat label berpikir keras agar perusahaan tidak bangkrut. Salah satunya adalah mengacak-acak tatanan harmoni dari label, manajemen, dan artis yang sebenarnya memiliki otonom sendiri-sendiri. Label telah mencampuri urusan artis itu sendiri melalui tangan panjang dari manajemen baru, karena pada akhirnya pembuat keputusan akhir di tangan label. Sejauh manakah label mengotak-atik urusan artis? jawabannya adalah sangat jauh, seperti genre dan penciptaan lagu apa yang sesuai dengan pasar, sehingga terjadi penghomogenan lagu-lagu yang beredar di masyarakat, royalti mechanical yang semakin mengurangi profit artis, show, tour, merchandise yang keuntungannya di share secara tidak terhormat, advertising, publishing, hingga ke dalam internal band itu sendiri (banyak band-band saat ini berformat bukan format original band itu, alasannya mereka tidak memilki musikalitas yang tinggi, atau wajahnya terlalu tampan untuk dimasukan ke dalam TV, sehingga mengganti personil band itu dengan orang lain yang lebih kompatibel).
Sesungguhnya 20 tahun sebelumnya sangatlah terhormat jika kita mendapatkan kontrak dari major label terkemuka. Kontrak yang besar, tingkat mendapatkan kepopulerannya melebihi label-label indie karena mendapatkan publishing terskema, royalti dari penjualan album fisik yang sangat besar. Tapi kini label rekaman berubah menjadi gurita kapital, yang mampu menggerogoti artis itu dan hanya memikirkan agar perusahaannya tidak bangkrut. Saat ini artis ibarat seperti buruh kelas pekerja, bukan lagi sebagai seniman sesungguhnya yang menciptakan karya-karya idealis mereka. Dikejar-kejar deadline label untuk membuat album, sehingga banyak artis yang kemudian menciptakan karya yang tidak maksimal, hingga penyimpangan genre musik dari band bertrendmark pop rock menjadi pop melayu. Jadi jangan terlalu tergiur dahulu jika major label tiba-tiba mengontrak anda, terlebih lagi mengontrak anda untuk jangka waktu yang sangat lama. label musik mempunyai cara kerja seperti permen karet, manis dikunyah, setelah tidak manis dibuang begitu saja. Jika artis itu tidak booming dan tidak mempunyai selling point lagi, maka habislah riwayat artis tersebut.

Banyak sekali saat ini artis-artis musik kembali ke jalur 'indie', seperti Nine Inch Nails, Radiohead, Madonna, dan dalam negeri terdapat Slank, Netral, Naif, Gigi hingga baru-baru ini Iwan Fals lewat album barunya 'keseimbangan'. Mereka merasa label tidak lagi berpihak kepada mereka, membatasi kreativitas, hingga masalah-masalah penggelapan royalti. Jadi berbahagialah jika anda tetap berada di jalur indie, karena tidak ada pembatasan baik kreativitas, hingga profit. Memang dalam tingkat kepopuleran menjadi menurun jika beralih dari major menuju indie, tapi setidak-tidaknya jika anda sangat beridealisme dalam menciptakan musik, dan tidak menyukai pembatasan-pembatasan yang dikungkung oleh label rekaman, maka indielah alternativenya.

Jurang pembatas antara major label dan indie sudah tidak lagi jauh. Major dan indie memilki kelemahannya masing-masing dan memiliki kelebihannya masing-masing. Untuk urusan penjualan album fisik, label sudah tidak bisa berharap lagi, begitupun artis-artis yang berada di jalur independent, album fisik dibagikan secara gratis, hal ini dilakukan oleh Koil ketika melempar album 'Blacklight Shines On' secara gratis lewat majalah dan via internet, ini merupakan terobosan besar yang dilakukan koil, tetapi bukan pertama kalinya, karena Prince mengedarkan albumnya secara gratis lewat tabloid Sun secara gratis. Bagi mereka, penjualan album fisik hanya dijadikan sebagai 'marketing tools' saja untuk menjaring job stage. Artis musik kini hanya mengandalkan show panggung saja, dan beberapa penjualan merchandise, dan album-album fisik yang dijual di tempat mereka tampil yang tidak seberapa. Sungguh ironis......musik kini kandas di rerumputan...du...du...du.....

Akhir dari Industri Musik Indonesia?

"Kutanya malam,
Dapatkah kau lihatnya perbedaan
Yang tak terungkapkan
Tapi mengapa, kau tak berubah
Ada apa denganmu?"

Sepenggal refrain di atas merupakan lirik dari mantan band 3 juta kopi, Peterpan. Setiap jalan-jalan pemukiman penduduk, anak-anak kecil bahkan anak balita sekalipun dengan artikulasi yang belum jelas dapat bersenandung lagu 'Ada Apa Denganmu?' di atas. Pengamen jalanan, hingga lapak-lapak para penjual CD/MP3 bajakan selalu memutar berulang-ulang lagu ciptaan Nazril Irham (Ariel) tersebut. Ketika band Peterpan sanggup menembus angka 3 juta kopi, sepertinya industri musik populer Indonesia saat itu dapat dijadikan sebagai ladang bisnis yang sangat menguntungkan oleh berbagai pihak. Lalu muncullah nama-nama baru dalam belantika musik Indonesia, program-program acara musik, baik chart ataupun konser, sehingga terjadi fenomena yang belum terjadi selama 65 tahun terakhir semenjak negara ini berdiri, yaitu fenomena bahwa musik Indonesia menjadi raja di negeri sendiri. Para penikmat musik Indonesia lebih menikmati dan menggemari musik dari musisi-musisi lokal, bahkan negara Malaysia pun harus gentar bahwa Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri jiran tersebut. Sampai-sampai saya tidak tahu lagi band-band luar yang hits saat itu, karena media mainstream lebih mengcover musik lokal, dan seperti tidak ada lagi ruang gerak bagi musik luar, jikapun iya hanya di TV kabel, hal ini teringat akan gelora retorika Soekarno yang menasionalisasikan selera musik dan mengebiri musik barat, tapi keadaannya saat ini bukan karena campur tangan dingin pemerintah, tapi karena kesadaran masyarakat.

Semakin banyak bahan, semakin banyak yang dikerjakan. Itulah yang terjadi di dunia industri musik Indonesia saat ini. Semakin banyak band-band, solois, ataupun vocal grup yang muncul, semakin banyak pula karya-karya mereka yang akhirnya berakhir dalam pembajakan. Kegabahan Label musik yang dengan mudahnya mengontrak banyak artis-artis musik, tanpa proses pemikiran yang matang akan bahayanya Piracy saat itu, menyebabkan banyak label musik yang terpaksa gulung tikar, sampai harus menjual tikar (baca:bangkrut sejadi-jadinya). Keragaman musik yang disuguhkan, band baru yang hanya mencetak one hits wonder setelah itu lenyap ataupun band baru yang ternyata lagunya hanya 'numpang lewat' tidak catchy di telinga masyarakat, membuat defisit label, ditambah lagi dengan pembajakan. 'Kenapa kami harus membeli kaset atau CD original jika mereka hanya punya 1 lagu bagus?' itulah pendapat beberapa masyarakat ketika saya survey saat menjadi seorang jurnalis kala itu.Pendapat masyarakat yang paling menohok label musik dan para pelaku bisnis industri musik adalah, 'Kenapa kami harus membeli CD original yang harganya terlampau mahal? sedangkan kaset? tape radio kami sudah rusak..kami lebih suka membeli CD berformat MP3 bajakan, dengan harga Rp.5000 kami mendapatkan 10 artis berbeda dalam 1 CD' sambungnya 'kami akan membeli CD yang benar-benar isi keseluruhan albumnya enak di dengar, tapi itu juga kami harus pikir dua kali dengan harga yang lumayan mahal'. Itulah pernyataan beberapa masyarakat yang mungkin saja mewakili setengah penduduk Indonesia.

Jadi apa yang harus dilakukan? apakah hanya bertumpu dari penjualan RingBack Tone saja? sejauh manakah RingBack Tone akan bertahan? Semua pihak yang berkecimpung di dalam industri musik Indonesia harus sama-sama bahu-membahu memikirkan arah masa depan musik Indonesia. Ini tidak hanya sekedar permasalahan musik biasa, ini sudah menyangkut kelangsungan hidup manusia-manusia yang bergelut dan mengandalkan musik sebagai mata pencaharian mereka, hal ini tidak dapat dipungkiri (jika ada yang membantah itu, it's like shit for me). Mungkin sebagai orang awam yang sok tahu seperti saya, mengapa label Musik tidak menurunkan standarisasi harga per CD original suatu artis? mengapa pemerintah tidak meringankan biaya pajak yang ditanggung per CD nya? sehingga harga CD original bisa dijangkau masyarakat, mudah-mudahan harganya tidak jauh berbeda dengan CD bajakan. Beginilah perkiraan perhitungannya:
harga CD original: Rp.55.000,-
Royalti per CD: Rp. 5.000,-
pajak per CD: Rp. 20.000,-
Sisa Rp. 30.000 ke Produser untuk:
harga per CD: Rp. 2.500,- (jika membeli secara massal mungkin akan bisa terkatrol lebih murah)
Kotak bungkus per CD: Rp. 500,-
cetak cover per CD: Rp. 250,-
Jika di total jumlah biaya produksi Rp. 3.250/CD....
Rp. 30.000 - Rp. 3.250 = Rp. 26.750,-

Jadi kemanakah sisa uang Rp. 26.750? Produser berdalih untuk biaya recording, promosi dan lain-lain. Jika kita mau saling jujur, dan berkorban untuk terus melanjutkan industri ini, pasti banyak jalan untuk memecahkan permasalahan pembajakan. Jika saja pemerintah meringankan pajak, ataupun produser tidak terlalu banyak mengambil laba dari penjualan per CD, promosi yang tidak perlu mengeluarkan budget yang besar, maka niscaya harga CD original bisa setara dengan kaset original sekitar Rp. 15.000,- Jika hal ini terjadi mungkin saja masyarakat akan tergiur membeli CD original, dimana konten di dalam CD tersebut terdapat lirik, foto artis, dsb yang tidak terdapat di CD bajakan.

Jika perlu kita bisa melawan para pembajak, dengan membuat MP3 original seharga MP3 bajakan. MP3 tersebut berisi dari artis-artis dari satu Label Musik, atau mungkin asimilasi artis-artis dari berbagai Label Musik. Hal ini pernah ditempuh, tapi harganya terlampau mahal, kenapa tidak membuat MP3 seperti MP3 bajakan tapi di jual di retail musik yang tempatnya sejuk tapi seharga MP3 bajakan,? label musik dan musisi tidak perlu khawatir lagi karena laba nya jatuh ke tangan Label dan musisi itu sendiri?! Sebenarnya banyak jalan menuju Roma, tapi tidak ada mau berani mencari jalan itu. Sebenarnya banyak sekali inovasi yang bisa ditawarkan, tapi pihak-pihak tertentu masih terhalang oleh; untungnya sedikit, sudah berpikir pesimis, dll. Jangan sampai industri musik tutup usia ketika belum saatnya. Inilah momentum yang tepat di saat musik menjadi raja di negeri sendiri, jika industri musik harus gulung tikar, bisa dipastikan makin banyak saja pengangguran di negeri ini. Jadi apakah ini akhir dari industri musik Indonesia? hanya pribadi kita masing-masing yang dapat menjawabnya. Atas Nama Musik, mari kita berjuang untuk musik, meski itu bukan ranah kita sekalipun.